Hey it’s finally ready, i hope you guys enjoy this one.

I put the file on Mediafire.

DOWNLOAD THE NEW EP.

songwriting

Belum bisa dipastikan tanggal rilisnya, tapi saya sedang menulis materi-materi untuk album berikutnya. Sekitar 7 atau 8 lagu yang sudah keliatan bentuknya. Lirik sudah mulai terkumpul but i’m still searching for most of them. Saya biasa menulis lagu mulai dari bagian gitarnya dulu supaya bentuk lagu and it’s emotion terbentuk dulu. From there the adventure of words searching begins to create the story for the songs.

Salah satu hal berbeda dari album sebelumnya, pada beberapa lagu saya memakai DADGAD tuning pada gitar dan capo di fret 3. Ha..apa itu? silakan di Googling saja.

Lagu-lagu yang sudah keliatan judulnya adalah Carnival, Don’t Look Back, Immortal Mellow dan Forget Jakarta.

Untuk nama albumnya sendiri belum ketauan.

So there you go folks.

Adelaide Sky tutorial

My apologies to all the guitars enthusiasts out there for taking so long, but here it is. A 27 minutes – painfully step by step guitar lesson on how to play Adelaide Sky. Yes folks, its 27 minutes long and 39mb in size, so i wasn’t even thinking about uploading it on Youtube. I put the video on Mediafire instead.

Download Adelaide Sky guitar tutorial.

GarageBand interface

Beberapa teman lumayan sering bertanya bagaimana saya bisa memproduksi satu album dengan menggunakan (software) Garage Band dan mendapatkan hasil yang cukup bagus dan bersih. Tidak sedikit dari mereka yang telah mencoba merekam audio dengan Garage Band tapi hasilnya gak bagus-bagus amat.

Buat yang belum tau, Garage Band adalah software rekaman (basic) gratis dari Macintosh, gratis alias sudah otomatis terdownload di Mac kalau kita membelinya.

Well, teman-teman sekalian, GarageBand hanyalah sebuah software rekaman saja, untuk proses rekam-merekam, kita tidak bisa hanya mengandalkan sebuah software, harus ada beberapa hardware rekaman lain yang wajib punya. You don’t just plug a karaoke microphone into your Mac and expect a miracle.

Dalam proses rekaman Quiet Down, saya juga memakai hardware basic (tapi wajib) seperti soundcard / audio interface, pre-amp dan microphone studio dan headphone untuk monitoring (yeap, headphone). Untuk additional hardware, bisa tambah mixer dan compressor, bila perlu.

Nah, itu untuk hardware-hardware lain selain software. Beberapa teman juga menanyakan bagaimana saya bisa mendapatkan hasil rekaman yang bersih sedangkan kamar yang saya pakai rekaman bukan kamar kedap suara.

Well, untuk mendapatkan hasil rekaman yang bersih, upaya-upaya inilah yang saya lakukan :

Menunggu sampai semua orang tidur, kalo ditempat saya, biasanya jam 11 malam keatas.

Menutup pintu, semua jendela, dan matikan AC.

Karena laptop Mac yang saya gunakan lumayan bising, bagian keyboardnya saya tutupi dengan sajadah yang saya lipat (biar tebal).

Merekam gitar akustik (miking) dengan menghadap ke dan sedekat mungkin ke tembok, kalau bisa tembok ditutupi dengan selimut, handuk, atau in my case, kasur pembantu yang tipis itu, biar suara gak mantul.

Special case pada saya, ketika merekam suara gitar akustik dengan mic, sound gitar yang saya dapat masih terlalu tajam buat (selera) saya, jadi pada kepala mic saya tutupi dengan peci putih buat sholat, tapi yang bagian atas pecinya yang halus seperti stoking, bukan yang kasar dan tebal. (bukan kopeah item itu ya..)

Memastikan kursi yang saya duduki bukan tipe-tipe yang gampang berdecit ketika kita bergerak, atau kita juga bisa memilih untuk tidak bergerak sama sekali selama recording.

Upaya tambahan untuk gitar akustik, bagian body gitar dibawah senar boleh ditutupi (tempel) dengan
tissue, karena kadang jari manis dan kelingking kanan kita (kalo kita gak kidal) suka secara gak sengaja mengetok body gitar di tengah-tengah rekaman.

Well, there you go dulu sementara, selamat merekam.

Adelaide Sky vs Kambing Jantan

It’s official. I’ve seen it. I’ve heard it. They played the song from start to finish on a scene where Radit chose to go visit Melbourne instead of coming home for his gf’s birthday.

To see and hear a song that you just came out one morning in 10 minutes on your bedroom being played on this giant movie screen theater was unreal, and it’s going to be heard nationwide.

Many thanks to Raditya Dika, Rudi Sudjarwo and Tyas A Moein and also my friends at Nubuzz Network, Daniel Tumiwa, Inge Tumiwa, Anton Wahyudi, Kikio Nugraha and Felix Daas.

I’m honored and flattered.

Go out and see the movie, it’s quiet refreshing.

Cheers all.

I want to own expensive acoustic guitars, some $2000 ones, some $3000 ones and one day the $5000 ones, because if you understand guitars, the higher the price (most of the time) the better they get.

But most of all, i want them because they inspire me, and i believe i DESERVE to play them, and i can write beautiful music with them in my hands.

Some people are starting to think that a bedroom musician is a profession, and that bedroom music is a genre, no no. I tell people that i’m a bedroom musician is simply because i only play in my bedroom. I can write and record music in my room with simple recording hardwares and give them away for everyone for free on the internet, absolutely no income from it at all.

I found that just because you love writing music, doesn’t always mean you want to be famous or be in the industry.

I love writing music, i give them away to everyone without any burden.

Why so serious?

I have no intention on becoming a serious and dedicated musician. I am dedicating my life to be with my wife and my daughter 24/7. Now how are you going to put a price on that?

“Pokoknya viralnya harus kreatip banget sehingga konsumen mau menyebarkannya!”, kata seorang brand manager dengan bangga dan mantapnya karena merasa up to date dengan geliat komunikasi online.

Yeeep yep. Viral memang lagi ngetren sekarang, monggo silakan saja. Memang kekreatifan sebuah pekerjaan online menjadi salah satu elemen utama yang akan membuatnya tersebar dengan sukses (mem-viral). Konsumen selalu perlu yang lucu-lucu, unik atau segar.

Tapi untuk sekedar mengingatkan, ada satu hal lain dalam pengerjaan viral yang sangat tidak kalah pentingnya dengan poin kreatif.

Diluar dari segi kreatif, apakah secara teknis kita sudah cukup membuat viral ini mudah disebarkan oleh konsumen? Or even for them to experience it on the first place?

Mulai dari ‘pintu depan’ yang simple dulu, lama gak buka viralnya? Beberapa gelintir orang akan walk away dari viral kita begitu sadar kalau ternyata butuh waktu 5 menit dari progress 01% ke 02%…(yes..out of a 100% completed download). Pertimbangkan opsi low bandwith dan high bandwith, upload dulu info-info penting seperti special offer atau hadiah-hadiah, buat permainan kecil selama menunggu download (this one’s kinda old thou). Hindari animasi-animasi yang kurang penting, if the idea is strong enough you might not need to be too flashy.

Hindari telling the audience what to do; untuk memulai permainan ini, download dulu file ini ke komputer Anda. “Excccuusee me??…ain’t nobody telling me what to do, son!”, kecam si konsumen dengan mata melotot dan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Beberapa orang biasanya akan malas untuk mendownload hal-hal asing ke komputer mereka, biasanya karena alasan spam dan khawatir virus.

Meminta konsumen mengisi 12 kolom personal database (nama, alamat, no hp, jenis kelamin, email, hobi, nama kakak, nama teteh, dsb) terlebih dahulu sebelum memberikan mereka experience apa-apa adalah hal yang kurang sopan. Sebuah trade off antara konsumen (database) dan brand (experience viral) hendaknya dibuat sama-sama enak. Mengisi 12 kolom database hanya untuk bermain sebuah game kecil alakadarnya sepertinya kok gak worth it.

Begitulah segelintir poin-poin yang perlu diperhatikan dalam sebuah projek viral diluar kreatif. Kita akan dapat menemukan poin-poin lainnya hanya dengan mengamati viral-viral yang datang menghampiri kita, sudah cukup ‘sopan’ kah mereka?

Tim kreatif bisa saja miss hal-hal diatas karena sudah terlalu lelah memikirkan bentuk kreatif-nya. Klien bisa saja melewatkannya karena memang tidak terlalu mengerti atau menggapnya sebagai hal teknis biasa yang bisa ditunda sampai nanti.

Memang, ketika kita sedang duduk di meja meeting mendiskusikan dan merencakan project viral, kita tidak berhadapan langsung dengan internet, kita sedang ‘putus hubungan’ dengan online behavior dan berada di dunia offline, dengan demikian kebiasan-kebiasan berinternet sedang tidak kita rasakan dan seringkali terlupakan.

So, plan ahead on every aspects, selamat membuat project viral, yang keren ya!