Karena kangen pengen nulis-nulis lagu lagi, pertengahan 2007 saya mulai mengumpulkan alat-alat home recording sederhana untuk rekaman di MacBook saya. Kegiatan rekam-merekam lagu saya yang terakhir adalah tahun 99 untuk projek solo, mungkin akan saya bahas lain waktu. Lumayan takes time untuk mencari perangkat rekaman yang cocok dan mudah aplikasinya, tapi setelah saya pikir cocok, proses menulis lagupun saya mulai.

Untuk projek kali ini saya hanya mengandalkan gitar akustik dan vokal saja. Kenapa? Pertama karena saya memang tidak punya band dan tidak tertarik untuk punya band, saya adalah orang rumahan yang sangat cinta berada di rumah, jadi ngapain ngeband. Kedua, gitar akustik adalah kendaraan paling simple untuk membuat lagu, gitar akustik terdengar lebih spontan, jujur dan apa adanya buat saya.

Lagu demi lagu pun selesai. Semuanya hanya buat koleksi pribadi dan beberapa saya berikan ke teman-teman dekat saya. Saya tidak punya rencana apa-apa terhadap lagu-lagu ini, yah, untuk di kumpulkan dan dibagikan ke teman-teman saja, toh ini cuman projek hobi, nanti kalo udah banyak mau saya bikin album kali…hehehe. Waktu itu saya baru punya 5 lagu.

Suatu malam sepulang kantor saya menemukan kiriman CD dari teman musisi indie saya Andre Harihandoyo. Sebuah CD band barunya Andre Harihandoyo and Sonic People. Saya pikir,”Sadis…udah bikin album lagi aja mereka…ck ck ck”.  Beberapa waktu si JJ (panggilan Andre) ini juga pernah bikin album solo berjudul Room For Everybody. Lalu saya balik albumnya untuk melihat list track lagunya. “Anjrit…kok cuman 5 lagu…5 lagu mah gue juga punya!”.

Hehehe. Belakangan saya baru sadar kalau yang saya pegang itu namanya EP (Extended Play) alias album mini, album yang berisikan kurang dari 6 atau 8 lagu begitu kalau gak salah. Malam itu juga saya kumpulkan 5 lagu yang saya punya. Lalu saya cari kontak orang yang bisa duplikasi CD dan cetak cover diatas kepingan CDnya. Saya juga yang men-desain cover mini album pertama ini. Akhirnya saya mendapat kontak si penduplikasi CD ini, ternyata minimum saya harus cetak 100 keping. “Buseet, buat apa CD 100 keping?!…gue cuman butuh 20!”. Hehehehe…rencananya EP saya ini cuman mau saya bagikan ke keluarga dan teman2 terdekat, cuman ya apa boleh buat, 100 keping 100 keping deh.

Sekitar semingguan paket CD ini sampai ke kantor saya. Hasilnya tidak sebagus yang saya kira, cetakan desain di atas cd hanya seperti kertas yang ditempel rapi saja, tidak menyatu dengan CD-nya, tapi ya sudahlah. Lalu saya mulai memasukkan CD kedalam cover plastik cheapo yang lalu saya sisipi desain sampul 1 lembar bolak balik yang saya desain dan print di Subur. Yah…lumayan lah…home-made sekali, hahahaha. Setelah siap saya langsung bagikan ke beberapa teman kantor. Buat teman-teman diluar kantor saya paketkan dan dikirim oleh kurir. Beberapa hari kemudian acara kirim mengirim CD selesai, sisa CD yang ada sekitar 70an, hehehe, yang lalu saya simpan di dalam box di bawah meja di suatu ruangan gelap yang tidak terpakai.

Seminggu dua minggu berlalu saya agak tergelitik untuk mengirimkan EP saya ini ke radio untuk sekedar bisa diputar di chart-chart indie kalau memang ternyata layak. Tahun 99 saya pernah punya projek solo yang (kata teman saya) pernah bertengger di no. 1 chart musik indie radio Ardan – Bandung. Saya pun browsing ke berbagai home page radio-radio di Jakarta. Dari situs-situs radio yang saya kunjungi, saya hanya menemukan 1 chart indie yang menerima lagu-lagu ‘masyarakat biasa’ untuk tayang on air, chart ini adalah NuBuzz di radio Prambors. Saya sendiri tidak tahu menahu tentang bagaimana reputasi chart NuBuzz ini, buat saya sepertinya kok yang namanya chart indie radio itu cuman di ada-adain aja buat nyenengin band / artis antah berantah yang mempersilahkan lagu mereka bisa tayang di radio beken. Who would listen to indie chart selain orang yang kirim demo itu sendiri pikir saya. Didasarkan oleh rasa bosan, saya pun mengirim EP saya ke Prambors.

2 hari kemudian saya mendapat telpon dari pihak Prambors, namanya mas Anton Wahyudi. Mas Anton (atau mas Not, ternyata panggilan lazimnya) bilang mereka setuju untuk memutar 2 lagu saya di chart NuBuzz, lagu-lagu tersebut adalah ‘Adelaide Sky’ dan ‘Memilihmu’. Wah, senang sekali rasanya, saya juga agak heran kenapa formal sekali pake di telpon-telpon segala, hehehe. Ternyata agenda pembicaraan tidak berhenti disitu, topik pembicaraan selanjutnya adalah rencana pembuatan kode RBT (Ring Back Tone) untuk kedua lagu saya tadi.  Ternyata ini memang program se-paket di Prambors NuBuzz untuk lagu-lagu Indie-nya. Kalo gak salah mas Not juga mention soal acara-acara manggung band-band NuBuzz ke depan. Mas Not juga bilang kalau saya akan perlu menandatangani beberapa kontrak sebelum lagu-lagu tadi bisa tayang on air.

Mendadak saya jadi grogi, kok jadi serius gini ya?…can you just play the songs and forget about me? who’s gonna listen to them anyway except me and my parents.  Saya sama sekali tidak ingin serius di musik, tidak sekarang, dimana umur sudah mencapai 30, bentuk tubuh sudah kurang ideal, menikah , punya anak serta memiliki perusahaan sendiri yang kesibukannya luar biasa. Dulu memang saya pernah berencana menjadikan musik sebagai pilihan hidup saya, tapi saya rasa rencana itu sudah ditolak Tuhan ketika tahun 96 saya gagal menjadi murid Berklee College of Music di Boston.

Dengan perasaan yang agak tidak menentu saya bilang ok ke mas Not atas segala proposal yang ditawarkannya. Beberapa hari kemudian paket kontrak yang ternyata super tebal ber-halaman-halaman ini tiba di meja kantor saya. Fast forward sedikit, pada acara on air interview di Prambors seputar topik NuBuzz yang saya hadiri, mas Daniel Tumiwa pernah mengatakan untuk menyimak kontrak musik baik-baik, kalau tidak sehati dan sejalan dengan band / artis, tidak usah di tanda tangani. Nah, yang namanya kontrak itu ditulis oleh bahasa hukum yang sangat tidak manusiawi. Isi nya penuh dengan kalimat-kalimat seperti ‘..yang kemudian akan disebut sebagai pihak kedua’, ‘pihak kesatu dan kedua akan selalu mengingat pasal yang tercantum di poin A-B202…’, ‘hal-hal yang menjangkoet kepentingan bangsa, maka dengan ini, saya nyataken, Endonesa merdeka!’. Anjrit. Kalo tulisan kontraknya saja bikin mata sulit berkompromi, bagaimana mau bisa sampai turun ke hati?. Akhirnya kontrak ini tidak saya baca sepenuhnya, saya hanya menelpon kembali mas Not dan meminta dia untuk menjelaskan isi kontrak secara garis besarnya saja. Kontrak pun saya tanda tangani dan saya kirim kembali ke pihak NuBuzz.

Chart NuBuzz tidak memiliki jam tayang / slot waktu khusus. Lagu-lagu NuBuzz dimainkan setiap hari satu lagu setiap jam nya, random pula, jadi nge-blend dengan musik-musik artis mainstream lainnya, hanya saja si penyiar akan memberi tahu kalau itu adalah lagu dari chart NuBuzz  dan pendengar dipersilahkan untuk voting lagu tersebut untuk menaikkannya ke posisi yang lebih baik. Lagu-lagu teratas NuBuzz lah yang akan di jadikan RBT nantinya. Lagu-lagu yang kurang bernasib baik akan berguguran dan keluar dari chart. Lagu ‘Adelaide Sky’ pun mulai dari posisi 8, saya selalu memantaunya dari website Prambors. Biasanya posisi/ ranking di chart akan berlaku selama 2 minggu sampai adanya result voting baru. Saya tidak gembar-gembor ke keluarga dan teman untuk mem-vote lagu saya, please, saya sudah terlalu tua untuk itu, saya bahkan tidak memberi tahu siapa-siapa soal lagu saya di chart kecuali ke istri saya yang kemudian lalu dia yang membuat pidato resmi ke teman-teman kantor kalo lagu saya diputar di radio Prambors (saya dan istri satu kantor).

Minggu-minggu berlalu Adelaide Sky sudah naik ke posisi 6, lalu 4. Dan satu momen yang pikir tidak akan terjadi, Adelaide Sky-pun berhasil mencapai posisi 1 Prambors NuBuzz. Senang sekali rasanya. Ternyata Tuhan tidak sepenuhnya menolak rencana bermusik saya. Saya merasa diingatkan kalau mau bermusik tidak perlu harus lewat Berklee College. Saya disuruh menunggu oleh Tuhan sampai tahun 2007 dimana waktunya saya bisa membuat lagu yang gak malu-maluin, cukup baik dan layak dengar.

Adelaide Sky sudah di puncak chart selama 2 minggu. Saya kembali mengunjungi website Prambors untuk melihat siapa rekan NuBuzz lain yang kali ini berhasil menduduki posisi 1. Malam sebelumnya saya sempat menduga kalau Adelaide Sky bakal masih ada di posisi 1, tapi saya segera menepis pikiran sombong itu. Laporan chart baru pun terpampang di layar laptop saya, kebanyakan posisi telah berubah tempat, kecuali 1 lagu. Adelaide Sky masih berada di posisi 1. Saya berusaha keras untuk tetap humble, lalu berpegangan ekstra erat ke kursi, siapa tahu badan ujuk-ujuk melayang, hehehehehehe.

Karena Adelaide Sky ini juga kunjungan ke MySpace saya meningkat drastis. Orang-orang meninggalkan komen tentang Adelaide Sky. Saya lalu teringat sisa EP saya…EP-EP-an kalo buat saya sih hehehe, yang tersisa 70 keping itu. Karena saya orang marketing, langsung saya pasang gambar 70 keping EP ini di halaman MySpace. Saya mempersilahkan setiap orang yang berminat untuk meninggalkan alamat masing-masing untuk kemudian saya kirimi EP saya ini, gratis! ongkos kirim saya yang tanggung. Dalam waktu kurang dari 2 bulan ke 70 CD ini telah habis. Paling jauh saya mengirimnya ke sampai ke Pontianak. Beberapa review cantik dan ucapan terimakasih teman-teman yang mendapatkan EP saya pun lalu bermunculan di blog-blog internet. Ternyata bagi-bagi gratis bisa sangat menyenangkan.

Karena sudah agak ada yang mengenal, sayapun diundang kampus Atma Jaya untuk tampil di acara Art Fest mereka tanggal 5 April ’08. Hah..tampil?!…manggung?…maksudnya bermain di stage di depan penonton?…yikes!. Terakhir saya manggung adalah tahun 2000, dan itu pun di Solo, di ‘kampung’, ini Jakarta man! dan Jakarta-nya bukanlah Jakarta coret antah berantah, tapi saya akan bermain di salah satu kampus beken ibu kota. Hari demi hari pun saya lalui dengan ketegangan tingkat tinggi sampai akhirnya hari yang saya tunggu-tidak tunggu itu pun datang. Show time sekitar jam 2 siang pada hari Minggu, saya ditemani Iim, istri saya, yang hari itu ‘menyamar’ menjadi salah satu audiens di antara abg-abg kampus. Di belakang panggung saya bolak balik ke toilet, badan agak lemes, krn selain grogi, saya juga sedang agak kurang sehat. Salah satu panitia bertanya santai ke saya,”Lo udah sering manggung-manggung gini dong Dhit?”. “Ngg..gak juga, terakhir manggung tahun 2000 dulu” jawab saya antara pasrah dan mencoba santai. “HAH?”, jawab si panitia kaget, mungkin dia agak menyesal sudah mengundang saya hadir di kampusnya, hehehe. Akhirnya giliran saya naik panggung, saya duduk, sendiri di stage dengan gitar akustik saya, menjadi artis pertama yang tampil hari itu….nice.

“Halo semua, gue Adhitia Sofyan, musisi kamar, agak grogi juga karena hari ini harus main diluar kamar”, sapa saya ke audiens. Yang lalu disambut dengan cheering support yang cukup warm. “Aaah..santai ajaaa”, teriak salah satu dari mereka. 4 lagu saya bawakan siang itu, the show went well. Sampai saya berkemas-kemas meninggalkan stage mereka masih berteriak meminta lagu lagi, sayang, saya cuman benar-benar prepare 4 lagu, karena meski saya punya 5 lagu, lagu saya yang berjudul WYL tidak bisa dilantunkan dengan gitar dengan tuning standar, saya harus re-tune ulang gitar saya untuk bisa membawakan WYL, beda cerita kalau saya bawa 2 gitar. Lagi pula band berikutnya sudah ready bermain menggantikan saya.

Anyway, show di Atma Jaya ternyata menjadi tempat show terbaik di antara semua tempat show yang kemudian pernah saya lakukan sampai saya menorehkan tulisan ini. Atma Jaya punya auditorium yang cantik. Waktu saya main semua lampu dimatikan, kecuali lampu sorot yang warm di stage. Tirai velvet merah raksasa berdiri di belakang saya sebagai penutup stage. Setingan yang sempurna untuk sebuah akustik show.

It was a pretty show, terima kasih Atma Jaya.
null