Looking back.

So how did an anti social, lazy, no-name bedroom musician like me single-handedly ended up having a song for a movie, win music awards, play outside the country, perform with the Magenta Orchestra on TV, and have album sold in Japan in just 2 years?

Ya, melihat kembali ke belakang, kira-kira 2 tahun lalu ketika saya selasai menulis sebuah lagu yang saya beri judul Adelaide Sky, jelas saya tidak punya rencana akan punya aktivitas di musik seperti sekarang ini. Namun dengan melewati 2 tahun inilah saya baru bisa melihatnya jelas, make sense of it all, and I thought I write this short experience ini buat siapa saja yang tertarik menyimak, (sebelum berjalan lebih dari 2 tahun dan jadi semakin malas buat menuliskan semuanya, hahaha).

Jalan untuk mempublikasikan musik memang sangat beragam, berikut ini adalah cara DIY (Do It Yourself) yang saya lewati :

1. Menulis lagu.

Saya menulis lagu murni karena kecintaan pada musik. Pendengar dari lagu yang saya tulis adalah saya sendiri. Buat saya dengarkan, nikmati lalu senyum-senyum sendiri. Seperti menulis diary, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang bilang jelek, bagus, salah dsb. Ada atau tidak ada orang yang mau mendengarkan, saya akan terus menulis lagu, because it makes me happy and it fulfill my need to create. Period.

Poin diatas buat saya penting untuk menulis lagu, regardless kita bertujuan menyimpan lagu2 itu sendiri untuk selamanya, atau meneruskannya untuk dicoba dijadikan sesuatu yang lebih serius.

Kalau ada yang tanya, menulis lagu jujur itu apa sih maksudnya, poin diatas adalah jawaban saya.

*Selingan.
Harus nulis lagu ya? Gak bisa nyanyiin cover2 lagu gitu aja?
Bisa banget, then you’ll be like Gamal-Audrey-Cantika, but you still gotta love what you do and be very good at it. Dengan cara ini all you can do is stay on Youtube and wait for fans and word of mouth to build up.

2. Put them on radio charts.

So you decide to get more serious with your songs? Either benar-benar ingin serius atau seperti saya, sekedar iseng-iseng. Next step adalah mengirimkannya ke chart2 indie di radio2. Saya kebetulan mengirimkan lagu-lagu saya ke Prambors Nubuzz karena kebetulan ketika di search di internet, via website mereka, chart indie ini lah satu-satunya yang saya temukan. Saya tidak mencari chart indie-indie lain, namanya juga iseng-iseng.

Satu hal penting yang saya dapatkan dari chart indie radio, adalah pendengar-pendengar (hakim) yang jujur. Kalau kita menulis lagu, lalu kita perdengarkan ke orang-orang terdekat kita; ayah, ibu, kakak, adik, pacar, teman, kemungkinan besar mereka akan bilang,”Aduuh..lagu kamu bagus deh sayang, gak nyangka ya kamu bisa nulis lagu….”. Preet.

Have your song played nationwide di chart-chart indie radio, let the true audience be the judge. Lagu yang berhasil menarik perhatian akan terus dicari dan berumur panjang, dan lagu yang tidak berhasil menarik perhatian akan hilang dimakan waktu, pupus, musnah, bye-bye.

*Selingan.
Harus lewat radio ya? Gak bisa langsung bagi2 gratis aja di internet?
Bisa saja. Cuman perlu diingat sebetulnya yang bagi-bagi musik di internet itu banyak. And just because you say its free, silakan di-download, gak selalu orang mau langsung download. Download itu walaupun gampang tapi effort lho….people need to know what are they downloading, musik sapa nih? Emang bagus? Kata siapa bagus? Nah lho…:p

3. Build Your Online Presence (penampakan di internet).

Disinilah kolaborasi antara media tradisional (radio) dan media baru (digital, internet, social media) menjadi penting. Dari radio, kita sudah mendapatkan pendengar yang tertarik dengan lagu kita. Dan tidak bisa dipungkiri, pendengar musik sekarang hidup di digital. Mereka search, download, berinteraksi, engage, mencari review dan membuat review dsb dsb tentang musik di internet. Celaka kalau akhirnya kita tidak punya presence (penampakan) di internet juga.

Belum bisa bikin website? Belum punya uang untuk bayar orang bikin website? Bikin akun Facebook, Twitter, create a blog, sing on Youtube, platform-platform ini yang sekarang lebih nge-trend disebut dengan social media.

Tahun 2008 saya set up akun Myspace, karena waktu adalah yang paling umum. Saya bisa display semua lagu saya dan membuat beberapa announcement. Dan ya, waktu itu juga masih punya Friendster, yikes :p
Komen2 orang yang mendengar musik saya via Prambors Nubuzz masih masuk ke Friendster. Saya sendiri belum punya website, tapi domain adhitiasofyan.com sudah saya beli, cukup penting, daripada nanti diambil orang. Sementara adhitiasofyan.com saya direct ke blog pribadi ini.

OK, platform-platform social media sudah dibuat, lalu kita isi dengan apa? Buat sekarang simple introdoction will do; komunikasikan siapa kita, musik kita seperti apa, upload foto, beritakan kegiatan2 musik dsb. Jangan nye-pam lewat YM (yahoo messenger), its old, and annoying.

Saya sendiri sudah tidak mengurus halaman MySpace saya, kalau mau display lagu cepat dan mudah di internet, saya pakai Soundcloud.com, akun saya di http://www.soundcloud.com/adhitiasofyan

4. Give Your Music Away.

Pada stage ini, kita sudah tau bahwa dari chart indie di radio lagu kita sudah mendapatkan sambutan yang baik, platform social media sudah terbentuk, mungkin sudah masuk satu atau dua komen tentang musik kita, mungkin juga sudah ada pendengar yang (masih dalam tahap iseng), nge-search musik kita di internet.

Langkah selanjutnya adalah menjadikan lagu kita menyebar seperti virus di internet (mem-viral). Make other people write about us on their blogs, let them recommend our music to their friends, make them tweet about us, post our names on their Facebook status, let other people be the ambassadors for our music. Jadi ketika ada yang search kita di Google, mereka tidak hanya menemukan kita di platform social media kita, namun mereka juga menemukan kita di blog2 orang lain dan di halaman2 sosial media mereka. Hal ini akan menunjukkan reputasi kita di internet, bahwa kita ada (platform sos-med kita) dan keberadaan kita di acknowledge oleh orang lain (tulisan org ttg kita di blog, social media dsb).

Hal diatas saya lakukan dengan membagi-bagikan (file) musik yang saya rekam sendiri secara gratis kepada semua orang. Sebelum akhirnya meng-upload semua lagu di internet, saya sempat nge-burn sendiri (via servis burn CD gitu) sebuah EP berisi 5 lagu sebanyak 100 keping, cover saya desain sendiri. Lalu saya mengumumkan via MySpace (waktu itu) bahwa saya membagi2kan EP ini gratis ke semua orang, ya, mengirimkan ke mereka satu persatu, ongkir saya tanggung sendiri. EP ini judulnya ‘I’m Not Getting Any Slimmer, So Here We Go…’, bagi yang masih punya EP ini, ketahuilah bahwa itu adalah barang langka, isinya the first recordings of Adelaide Sky, In To You, Memilihmu, WYL dan Reality, saya sendiri sampe gak punya barangnya sekarang hehehe.

My first EP.

Seorang musisi membagi-bagikan musik gratis (dengan mempersilakan download) waktu itu masih merupakan hal yang aneh (sekarang juga sih…), apalagi membagi-bagikan EP fisik gratis dengan ongkir ditanggung si musisi. This is definitely a story to write about! Dari hasil membagi dan mengirimkan EP gratis ini, saya mendapatkan tulisan2 orang lain tentang musik saya di blog2 mereka, nice🙂

Bagi-bagi musik di internet bagus buat kalian yang memang tidak / belum punya banyak waktu untuk banyak-banyak manggung atau belum siap (dlm berbagai aspek) untuk memproduksi CD fisik, waktu yang ada bisa digunakan untuk membangun terlebih dahulu presence dan reputasi kita di internet.

Musik kita yang sudah kita sebar di internet akan terus mem-viral. Kita tidak akan pernah tau surprise2 apa yang akan terjadi, siapa saja dan di mana saja yang mendengarkan musik kita, if they listen to our music, they’ll find their way to find us🙂

5. To Produce CD or Not To Produce CD?

Setelah resmi membagi-bagikan full album Quiet Down komplit di internet bulan Januari 2009, CD fisik Quiet Down akhirnya dijual di toko2 musik bulan Februari 2010, dengan versi downloadnya tetap tersedia di internet.

Ada beberapa sebab yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk memproduksi album fisik. Hal yang utama adalah akhirnya saya bertemu dengan orang-orang yang bisa membantu dan memberitahu saya bagaimananya caranya untuk bisa punya CD dijual di toko-toko, tanpa harus lewat label neko2. Pada awalnya saya sama sekali blank soal ini, tapi setelah tau, saya jalan produksi.

(Saya akan menulis lebih detail lagi soal urusan memproduksi CD ini pada postingan lain, karena ada hal2 detail penting seperti kontrak, pihak2 yang terkait, what to expect dsb, karena ini memang lebih ribet dan makan waktu daripada bagi2 file musik di internet, hehehe).

Bagi-bagi file musik gratis di internet punya kelemahan sendiri. Karena masih ada orang-orang yang membeli CD fisik, yang bagi mereka the idea of musisi bagi2 musik gratis itu samasekali tidak terlintas di kepala mereka. Setelah hampir 2 tahun bagi2 musik gratis, masih saja ada yang menanyakan keberadaan CD/Kaset musik saya di toko2 musik.

Belum lagi ada orang2 yang masih suka jalan2 ke toko2 musik, beli CD iseng based on cover yang mereka lihat gara2 curious. Ketika kita gak punya CD fisik disitu, kita kehilangan (calon) pendengar.

Yang paling menyenangkan adalah tidak sedikit pendengar musik saya, yang setelah mendownload musik saya di internet, menyatakan kalau mereka akan menunggu dan membeli CD fisiknya ketika sudah ada nanti, really nice🙂 (aduh..gue sampe terharu waktu nulis paragraf ini…hiks…)

Dan secara kualitas, musik di CD tentu saja lebih bagus daripada hasil download di internet (mp3), karena sudah melewati proses mastering di studio profesional, musiknya lebih ‘keluar’ dan stand out. Plus, you have the CD packaging as the artwork that you can keep, plus buying the physical CD means good support for the musician🙂

So, to make this chapter short, CD fisik akhirnya tersedia juga di toko,
and yes, sales are good. Baru2 ini, owner sebuah toko musik di Jepang mengkontak saya karena suka dengan lagu-lagu saya yang dia dengar di internet, dia bertanya apakah saya punya CD fisik yang bisa dijual disana.
Saya bilang punya! ☺ – dari hanya bagi2 musik gratis sampe punya album yang dijual di Jepang, see how it all connected dan menjadi sebuah rangkaian sebab-akibat yang manis?

Ow, punya CD fisik juga tidak selalu harus dijual di toko, keep some with you, jual via internet, bawa selalu untuk dijual saat manggung.

*Selingan,
Harus produce CD fisik ya?
Nope, Duo-Elektronik dari Bandung, Bottlesmoker memilih untuk terus membagi-bagikan musik mereka gratis di internet, beside being good at what they do, they’re gaining good reputation and regularly have gigs internationally, nice ☺.

Semua ‘huru-hara’ yang kita buat di online akan menarik media2 di offline, magazines are going to want to interview you, radios want you sing on air, dan tv station, meskipun msh sulit dan belum utk porsi yg besar, would want you to be there too.

One important thing, arti kesuksesan dan kesenangan dalam bermusik itu berbeda-beda untuk tiap musisi, we have to respect that difference.

Okay, segitu dulu postingannya, lumayan cukup banyak yang harus dicerna dulu, itu aja pasti ada poin2 yang kelupaan, akan ditambah secara berkala, kapan2 saya terusin ke postingan berikutnya, thanks all.