Kemarin saya menemukan review album Quiet Down dari Jepang, ya, album ini memang sudah dipasarkan resmi di Jepang oleh label indipenden di sana yang bernama Production Dessinee.

Sayangnya review-nya ditulis dalam bahasa kanji..hahaha, Google Translate pun tidak secara persis menerjemahkannya dengan baik. Namun setelah saya pasang di Facebook (dengan saran utk menggunakan Google Translate ke orang2), seseorang telah menerjemahkannya ke bahasa Indonesia, thanks mas Ilham Syarulla🙂

Demikian terjemahannya :

“Adhitia Sofyan Quiet Down Japanese Review Translation Musik, Wine & Fromage”

Kalau kita bayangkan musisi seperti apa sih yg ada di Indonesia? Mungkin yg terbesit dipikiran anda musisi world music dengan gaya orientalis. yg terbesit dalam pikiran saya adalah negara penghasil kopi manderin & kopi luak, kopi langka yg diambil dari kumpulan kotoran luak tapi Album [Quiet Down] Adhitia Sofyan ini menghapus prasangka saya kalau album ini album lagu daerah bertemakan kopi luak. kata Borderless menjadi tidak asing lagi bagi saya, sudah lama sekali saya tidak pernah menyimak album akustik yg senikmat ini. Saya telah berprasangka buruk terhadap Indonesia. Saya tidak mengenal Adhitia Sofyan secara detil, tapi saya pernah dengar bahwa album [Quiet Down] ini direkam di kamarnya, memadukan gitar dan nyanyian, menghasilkan ambience yg merilekskan, hangat menenangkan persis seperti matahari, apalagi bila didengarkan oleh orang sakit yg sedang beristirahat di atas tempat tidur rumah sakit. bed room music!

Paragraf ke-2 ini saya tulis setelah mendengarkan baik-baik album ini dan membaca review saya sebelumnya, kehebatan album ini tidak berubah, hanya saja saya sekarang telah mengetahui proses pembuatan album ini, dan kesan & cinta terhadap album ini semakin bertambah. justru karena zaman sekarang yg seperti ini, saya ingin menghargai hal-hal seperti itu.

Horiuchi Takashi