Demajors (my label) asked me to hand them a couple of press releases for my first album “Quiet Down – Bedroom Recording Vol.1” and my second album “Forget Your Plans – Bedroom Recordings Vol.2”. Thinking i can write those easy, i said ok. I was wrong. Its very tricky to write your own press release, i was immediately stuck. Right then people surround me told me that i suppose to give the task to a professional writer, a music journalist of some kind in my case i guess.

Only one person came to mind. I contacted my good friend Felix Dass if he’d help me write the press releases, and he said yes! yeaay!.

I gave the press release Felix wrote to Demajors already, but i thought i’d put it up here.

So here you go, its in bahasa Indonesia (wonder if Google Translate will help…haha).

So here’s my press release for my 1st and 2nd album, written by Felix Dass :

Partikel mimpi dibangun dari ruang sempit bernama kamar, segi-segi dindingnya mampu merekam segala macam cerita yang dibangun dari kisah hidup. Dan Adhitia Sofyan adalah orang yang tepat untuk melakukan proses seperti ini dari hulu ke hilir.

Hasrat terpendam itu jahat. Ia menghantui dan membayangi langkah-langkah ke masa depan jika di satu masa seseorang memutuskan untuk mengabaikannya.

Seorang Adhitia Sofyan membangun masa lalu dengan berbagai macam pilihan. Musik selalu menjadi inspirasi tapi tidak pernah punya kuasa untuk diperhatikan dengan maksimal. Ragam percobaan digelontorkan, namun kegagalan selalu jadi jawaban.

Ia gagal masuk Berklee College of Music. Ia juga gagal membangun sebuah kelompok musik di kampung halamannya, Solo. Lalu, pilihan jatuh ke bidang lain; periklanan. Itu adalah jawaban yang realistis.

“I did quiet ok di periklanan, won some local awards, reputasi karir yang baik, dan selalu dapat promosi dari kantor tiap tahun,” kenangnya.

Karir menjulang, peluang bisnis digenggam, dan hidup berlangsung baik. Kenyamanan mulai diperoleh tapi ada satu kawan lama yang memanggil-manggil; musik.

“Pada saat itu saya selalu beranggapan bahwa perjalanan musik saya sudah selesai. Saya sudah coba dua kali tanpa hasil berarti; gagal masuk Berklee dan kandasnya project solo karena pekerjaan di Jakarta, that was it, I’ve buried it,” paparnya.

Namun ia berusaha untuk menepis anggapan itu. Ia mengurung diri, memainkan musik dengan gitar akustik di kamar. “Kalau mau rekaman, harus menunggu malam; anak tidur dan jalanan sepi, supaya tidak bocor suaranya,” ceritanya suatu kali.

Kawan lama itu menggedor pintunya. Memaksa masuk untuk diperhatikan. Dan ia menjawabnya dengan usaha yang maksimal, walau kendala mengintai, “Musikpun saya jalani pure iseng-iseng saja. Prioritas tetaplah kantor. Kalau ada urusan musik, harus menunggu sampai urusan kantor kelar.”

Atas nama kesenangan, musiknya ia sebar ke orang banyak, “Hasil yang diharapkan adalah hasil yang cukup enak untuk didengar sendiri dan dibagikan ke teman-teman kantor yang mau mendengarkan.”

Gayung bersambut, pendengar mulai berdatangan. Omongan menyebar dan semakin banyak orang meluangkan waktu untuk mengunduh dan mendengarkan karyanya.

“Karya-karya di musik terus mendapatkan sambutan pendengar dan semakin saya turuti turuti bermusik, the more fun and fulfilling it became. Secara bersamaan pula, saya merasa semakin nggak betah menyelesaikan tugas-tugas di kantor,” lanjutnya.

“Istri saya membaca kegelisahan itu dan ia menyarankan agar total di musik, toh kantor juga sudah mulai established. Walau masih khawatir, saya setuju.”

Jadilah, ia bermain musik penuh waktu. Dan layaknya seorang artis penuh waktu, ia berjalan maju melihat masa depan di dunia musik.

Sebelum keputusan itu diambil, album Quiet Down – Bedroom Recordings vol. 1 sudah lebih dulu dirilis dalam bentuk yang konvensional, tidak lagi merupakan seonggok harta karun terpendam di satu sudut sempit belantara internet.

Ia memberikan perlakuan yang lebih gentle untuk sekumpulan lagu di album itu; memberikan rasa mixing dan mastering yang layak, mendesain kover dengan konsepsi yang bisa dipertanggungjawabkan, dan melakukan serangkaian kerja sama untuk membuat cd tersebut bisa terpampang di sejumlah toko rekaman di banyak kota di Indonesia.

“Quiet Down ini adalah musik untuk santai atau istirahat. I’ve made and record the songs late at night when things are quiet. And in a more philosophic way, if things are quieter, you might hear things or ideas clearer,” ucap Adhit tentang debut album solonya.

“Album ini adalah pintu masuk saya kembali ke musik,” tambahnya.

Dan di tahun 2011 ini, ia kembali mengulang proses yang sama untuk album sophomorenya, Forget Your Plans – Bedroom Recordings vol. 2. Ia menulis lagu-lagu yang punya nuansa sedikit berbeda dengan debut albumnya dulu.

“Saya mulai menulis soal kota Jakarta, ada juga lagu tentang kematian atau misalnya obsesi yang berlebihan dalam sebuah hubungan; the words on the song just came out of me after a series of suicide case in some major malls in Jakarta. Pada akhirnya album kedua ini terkesan lebih gelap dan mature,” paparnya tentang nuansa yang kini sedikit berbeda.

Di album ini, Adhit mulai berani bermain-bermain dengan instrumen lainnya selain vokal dan gitar akustiknya, “Di album kedua secara bentuk musik ada strings section, ada juga kulintang dan pianika. I guess those are the areas yang siap untuk dieksplorasi.”

Tapi, semua ide dasar tetap terjadi dan dikonstruksi di kamar.

Adhitia Sofyan adalah sosok sederhana. Ia ingin memulai segala sesuatunya dari langkah-langkah kecil yang disusun sedemikian rupa untuk membentuk sebuah sirkus yang terbaik.

“It’s funny how I don’t go to a music school, I can’t read music, somewhat limited skills, but music is the only thing that makes perfect sense to me. Music is home, and hopefully I’m home.”

Dari kamarnya, ia memulai sebuah perjalanan menarik menuju masa depan. Satu demi satu potongan mimpi diubahnya menjadi kenyataan.”