Beberapa kali saya menerima message dari teman-teman yang punya lagu sendiri. Mereka bermaksud meminta komentar saya tentang lagu yang telah ditulisnya, sekedar untuk itu saja, atau untuk bekal mulai bermusik.

Sebelumnya terimakasih buat teman-teman atas message2nya.

Baik, untuk kalian yang sudah punya lagu sendiri, dan tertarik untuk tau ‘what’s next?’, berikut ini ada 5 poin awal dari saya :

1. Your song should speak for itself.

Lagu bagus/jelek itu subjektif. Just because i think you have a good song i still can’t help you with your music career, or guarantee the song will be a hit. And just because i think your song is biasa aja, doesn’t mean that it won’t be a hit, or you’ll have a successful music career, or i want to help you fix the song. You cant go around and say,”Mas Aditiya Sopiyan said my song is very nice, here, play this on your radio!”.

Dulu saya masih niat ngomentarin lagu2 orang, tapi sekarang tidak lagi. Pernah satu waktu teman saya membuat satu lagu, dia perdengarkan ke saya, dan saya bilang biasa saja, we no longer friends now (nor his song ever get anywhere). Lagu ‘Jangan Pergi’ dari Alexa pernah diperdengarkan kepada saya sewaktu belum dilepas ke publik, sekali lagi saya bilang lagu itu biasa saja, toh akhirnya nge-hits. See what i mean?

Kalau kamu ingin memulai sendiri perjalanan musikmu, tanpa ada tim serius (label, promo team etc) di belakangmu, then your song should speak for itself, because your song is the whole marketing team (for) now. Alhamdulillah ‘Adelaide Sky’ cukup sukses diperdengarkan di radio tanpa gambar-gembor promo tentang packaging penyanyinya. The song has to present itself. Sementara sekarang saya sering ketemu lagu-lagu untuk free download, word of mouth di Twitter kencang, link download di promosikan di majalah2 online ternama, dan beberapa lagu ini gak pernah sampe ke mana-mana. Your song has to speak for itself!

Tapi perlu diingat, jangan berharap SEMUA orang akan suka sama lagu kita, you can’t please everyone, tiap lagu akan otomatis ‘memilih’ segmen pendengarnya sendiri.

2. Your song should be well-recorded.

Lagu harus terekam dengan baik. Lagu ini harus siap, cukup bersih dan rapi untuk diputar di radio. Dengan segala macam teknologi dan hardware rekaman, dan dengan sedikit research di Youtube, kita semua bisa rekaman di kamar, which i still do until now.

Lagu kita harus well-recorded, maksudnya antara lain lagu ini harus : clean didengar, gak ada noise (suara ‘ssssss’, atau suara motor), gitar dilarang fals (always tune your guitar using a tuner), preparation nyanyi yang betul, gak ada suara ‘eham, ehem’ yg terekam di lagu, mixing diusahakan balance (jangan sampai vokal terlalu besar, gitar terlalu kecil, dsb).

Diusahakan jangan pamer2 lagu sambil bilang,”Bro, gue punya lagu nih, tapi ininya masih jelek, gitarnya masih kecil, dan masih ada noise bla bla bla”. No. record it well first before you ask people to listen.

Karena ini bukan postingan tentang ‘bagaimana rekaman sendiri’, jadi silakan belajar sendiri lewat internet.

However, alat-alat yang saya pakai untuk rekaman di kamar bisa dilihat di sini.

3. Put your song out there.

Publikasikan lagumu, pasang di internet (Soundcloud, MySpace, Tumblr, Blog, Facebook, Youtube etc). Burn lagumu di CD, bagikan gratis ke semua.

4. Get yourself on stage!

Penting! just get any stage you can and perform! mau itu panggung acara kantor, panggung acara keluarga, acara kelurahan, nyanyi di depan kelas, just start performing in front of real audience. Networking dengan teman-teman yang sudah hobi nge-band dan sering manggung, suka ada event2 kecil (tapi masih tetap cool) yang menyediakan stage2 kecil untuk band2/musisi baru perform. Note : Jangan minta bayaran dulu untuk saat ini.

5. Pilih nama panggung yang asik.

Kalau kamu punya band, otomatis kalian akan punya nama band. Tapi, jika kalian akan menjadi solois seperti saya, penting untuk dipikirkan nama panggung. Terus terang saya agak menyesal memakai nama saya sendiri, ‘Adhitia Sofyan’ tidak terdengar seperti nama penyanyi atau nama stage act yang menjual. Kalau saya boleh memilih, saya mungkin akan pilih stage name yang lebih catchy. Seperti Dallas Green yang memilih ‘City and Colour’, Sam Beam yang memilih ‘Iron and Wine’, dan Kristian Matsson yang memilih stage name ‘The Tallest Name On Earth’. Menurut saya pemilihan stage name yang tepat cukup berpengaruh ke jualan (daya tarik).

Well, i guess begitu saja dulu sebagai poin2 awal yang basic. Selamat mencoba.

Creative Commons License
“Mas, tolong dikomentari lagu saya…” (Saran Mulai Bermusik). by Adhitia Sofyan is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.