Search

Category

creative

Sudah sopankah viral Anda?

“Pokoknya viralnya harus kreatip banget sehingga konsumen mau menyebarkannya!”, kata seorang brand manager dengan bangga dan mantapnya karena merasa up to date dengan geliat komunikasi online.

Yeeep yep. Viral memang lagi ngetren sekarang, monggo silakan saja. Memang kekreatifan sebuah pekerjaan online menjadi salah satu elemen utama yang akan membuatnya tersebar dengan sukses (mem-viral). Konsumen selalu perlu yang lucu-lucu, unik atau segar.

Tapi untuk sekedar mengingatkan, ada satu hal lain dalam pengerjaan viral yang sangat tidak kalah pentingnya dengan poin kreatif.

Diluar dari segi kreatif, apakah secara teknis kita sudah cukup membuat viral ini mudah disebarkan oleh konsumen? Or even for them to experience it on the first place?

Mulai dari ‘pintu depan’ yang simple dulu, lama gak buka viralnya? Beberapa gelintir orang akan walk away dari viral kita begitu sadar kalau ternyata butuh waktu 5 menit dari progress 01% ke 02%…(yes..out of a 100% completed download). Pertimbangkan opsi low bandwith dan high bandwith, upload dulu info-info penting seperti special offer atau hadiah-hadiah, buat permainan kecil selama menunggu download (this one’s kinda old thou). Hindari animasi-animasi yang kurang penting, if the idea is strong enough you might not need to be too flashy.

Hindari telling the audience what to do; untuk memulai permainan ini, download dulu file ini ke komputer Anda. “Excccuusee me??…ain’t nobody telling me what to do, son!”, kecam si konsumen dengan mata melotot dan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Beberapa orang biasanya akan malas untuk mendownload hal-hal asing ke komputer mereka, biasanya karena alasan spam dan khawatir virus.

Meminta konsumen mengisi 12 kolom personal database (nama, alamat, no hp, jenis kelamin, email, hobi, nama kakak, nama teteh, dsb) terlebih dahulu sebelum memberikan mereka experience apa-apa adalah hal yang kurang sopan. Sebuah trade off antara konsumen (database) dan brand (experience viral) hendaknya dibuat sama-sama enak. Mengisi 12 kolom database hanya untuk bermain sebuah game kecil alakadarnya sepertinya kok gak worth it.

Begitulah segelintir poin-poin yang perlu diperhatikan dalam sebuah projek viral diluar kreatif. Kita akan dapat menemukan poin-poin lainnya hanya dengan mengamati viral-viral yang datang menghampiri kita, sudah cukup ‘sopan’ kah mereka?

Tim kreatif bisa saja miss hal-hal diatas karena sudah terlalu lelah memikirkan bentuk kreatif-nya. Klien bisa saja melewatkannya karena memang tidak terlalu mengerti atau menggapnya sebagai hal teknis biasa yang bisa ditunda sampai nanti.

Memang, ketika kita sedang duduk di meja meeting mendiskusikan dan merencakan project viral, kita tidak berhadapan langsung dengan internet, kita sedang ‘putus hubungan’ dengan online behavior dan berada di dunia offline, dengan demikian kebiasan-kebiasan berinternet sedang tidak kita rasakan dan seringkali terlupakan.

So, plan ahead on every aspects, selamat membuat project viral, yang keren ya!

Ferrari Kok Nyemplung ke Laut?

Dari tahun 2000 sampai pertengahan 2005 saya berkecimpung dalam berbagai proses pembuatan iklan televisi, cetak dan radio untuk berbagai macam campaign brand-brand besar. Periklanan adalah sebuah industri yang sangat mapan di Indonesia. Sepertinya semua orang tahu betul dan punya berbagai opini tentang bagaimana seharusnya marketing campaign yang betul, bagus, kreatif, efisien, menghasilkan, dsb dsb.

Akhir tahun 2005 saya meninggalkan hiruk-pikuknya panggung periklanan nasional dan hijrah ke industri online advertising. Saya dan istri mendirikan Virus Communications, sebuah biro konsultan di bidang online marketing. Virus berdiri sebagai divisi baru atau in-house shop atau sister company dari Virtual Consulting, sebuah perusahaan dotcom yang sudah terlabih dahulu mapan yang didirikan oleh seorang Nukman Luthfie. Sebetulnya tugas saya di tempat baru ini sama persis dengan apa yang saya kerjakan sewaktu di dunia iklan, yaitu membuat ide-ide kreatif untuk kampanye iklan klien, namun ada satu hal fundamental yang sangat berbeda; medan tempur saya adalah interenet, bukan televisi, bukan majalah / koran dan bukan radio.

Analoginya, ketika di dunia periklanan tradisional saya sudah terbiasa mengendarai berbagai kendaraan untuk mencapai berbagai tujuan di darat, kali ini saya harus pergi ke laut dan belajar untuk bisa mencapai berbagai tujuan, baik hanya sebatas permukaan, atau ke dalam. Saya harus menggunakan perahu, selancar, kapal selam dan berbagai kendaraan laut lainnya, it’s a totally different world. Walaupun saya sudah berpengalaman dalam hal berkendara, kali ini saya harus belajar mengenal seperti apa lautan itu. O ya, saya juga harus belajar mengendarai berbagai macam kendaraan laut tadi tentunya. Mempelajari semua hal baru diatas menjadi pengalaman yang menyenangkan, membuat saya humble dan sangat open, setelah sebelumya telah cukup sombong dengan ilmu-ilmu dari daratan.

Dan sekarang internet terus berkembang pesat menjadi medium yang terus di sasar oleh para pemilik brand. Mereka, secara langsung atau melalui biro iklan mereka berbondong-bondong melakukan komunikasi di internet. Banyak dari mereka yang langsung menyerbu lautan internet ini dengan memasang berbagai macam banner dan mempromosikan website-website menarik. Tetapi dalam banyak hal apa yang mereka lakukan adalah membawa kendaraan-kendaraan darat mereka ke laut. Bentuknya sih keren-keren, tapi yang namanya Ferrari model apapun kalau di bawa ke laut pasti tenggelam.

Berkomunikasi dan ber-marketing di online sangat jauh dari sekedar memasang banner dan mempromosikan website-website menarik.

So, I’m getting to my point now. Semua ilmu-ilmu untuk memastikan berbagai macam komunikasi marketing berjalan baik di dunia internet akan dirangkum dan dibahas dalam 1 hari. There’s going to be a seminar held by our office. Kita akan berbicara habis-habisan soal lautan internet, tentang berbagai ceklist yang harus dipenuhi sebelum kita sampai ke banner dan website-website yang flashy (kalau yang diperlukan memang banner-banner dan website flashy).

Nukman Luthfie akan menjadi pembicara utama. Iim Fahima dari Virus dan beberapa rekan dari brand-brand lokal yang telah melakukan online campaign akan membahas kasus-kasus lokal. Orang iklan favorit saya, Budiman Hakim, akan menjadi pembicara tamu.

Oh and no, I won’t be performing that day folks, sorry about that, but I’ll be there.

Kisah Klasik Konyol dari Kantor.

Kisah analogi (yang saya adaptasikan untuk pembaca dalam negeri) di bawah ini pertama kali saya baca dari sebuah buku periklanan di tahun 2000 ketika saya pertama mulai bekerja, sampai saat ini kisah konyol ini masih terlalu sering terjadi di seputar kantor.

“Konon, pada suatu ketika, sebuah agensi periklanan di Jakarta diundang meeting ke kantor pusat kliennya di Jogja. Dari agensi dikirimlah dua orang perwakilan, satu dari departemen kreatif dan satu lagi dari departemen client service. Setelah urusan check in hotel di Jogja selesai merekapun bersiap-siap menuju kantor klien untuk meeting. Si kreatif menanyakan alamat atau arah menuju kantor klien mereka di Jogja, si client service lalu menjawabnya dengan memberikan peta Indonesia kepada si kreatif.”

Sekali lagi cerita diatas hanyalah analogi, para pemeran dan alur ceritanya silahkan di adaptasikan ke kasus masing-masing.

Hehehe…sounds familiar? :p

Apa Sih Pekerjaan Saya di Kantor?

Saya membuat konsep kreatif dan mengawal masing-masing eksekusi perkerjaan-perkerjaan seperti di bawah ini :

www.legabanget.com

www.dicuekinsayang.com

www.makinseru.com

www.intelligent-lab.com/

www.auto2000.co.id/homequotes.html

Saya Seorang Tukang Bikin Iklan.

November tahun 2000 saya bergabung dengan Matari Advertising sebagai desainer grafis setelah menyelesaikan kuliah desain di KvB Institute of Technology di North Sydney. Sekitar awal tahun 2002 saya berubah titel menjadi Junior Art Director. Pertengahan tahun 2002 saya resign dari Matari dan mengembara selama 6 bulan di Singapura. Di Singapura saya mengikuti portfolio course di Singapore Institue of Advertising dan juga berkesempatan magang di biro iklan Lowe Singapore.

Sebetulnya saya ingin mencoba bekerja di sana, namun ternyata bekal saya dari Matari belum cukup untuk menaklukkan negeri jiran yang satu ini. Pada akhir tahun 2002, program kursus saya di sana selesai, dan secara kebetulan, biro iklan JWT Jakarta berkenan untuk meng-hire saya menjadi Art Director pada awal tahun 2003.

Karir saya di JWT juga tidak begitu panjang, karena pada akhir tahun 2005 saya dan istri saya akhirnya mendirikan ‘dapur’ kreatif kami sendiri bernama Virus Communications. Saya cukup puas dengan perjalanan saya di JWT, tiap tahun saya pasti menyumbangkan metal (kreatif award) buat kantor tercinta ini, walaupun baru award-award lokal dan belum sampai gold. Selama di JWT telah terjadi 3 kali percobaan pembajakan kepada saya untuk pindah ke biro iklan lain; 2 kali oleh BBDO, dan 1 kali oleh DDB Advis. Saya meninggalkan JWT sebagai Senior Art Director.

Oya, di kantor saya sekarang lagi-lagi titel telah berubah, saya sekarang adalah Creative Director, yep…the one that don’t do any layouts and gets to tell Art Directors what to do. Haha…

Up ↑