Search

Category

music

FREE DOWNLOAD : FULL ALBUM (demo version)

Silakan diunduh full album versi demo ini, ada 10 lagu dan personal note dari saya di dalamnya. Versi demo? lagunya setengah-setengah gitu yang abis di tengah? Nope, they’re all full songs from start to finish.

Sebarkan ke teman-teman yang lain kalau sedang ada waktu.

Thanks people.

gue coba upload juga di mediafire kalo ada kesulitan download, ini link nya, bener gini gak ya? :

http://www.mediafire.com/download.php?2jq4fzx32my

‘Memilihmu’ on Nubuzz 1.1 Compilation CD

Berita agak sedikit basi sih, hanya saja belum sempat saya post. Salah satu lagu saya yang juga sempat tayang di chart NuBuzz dan juga sempat meraih posisi pertama berhasil masuk ke CD kompilasi keluaran NuBuzz / Prambors yang berjudul Nubuzz 1.1 . Kalau tidak salah album kompilasi ini total berisi 11 lagu dari band-band jagoan NuBuzz termasuk Sind3ntosca dan Drew.

Mumpung sedang membahas soal NuBuzz, sekalian saya sempatkan untuk memberi komen alias kesan-pesan terhadap chart indie yang satu ini. Saya sangat merekomendasikan band / artis indie yang mau ngecek apakah lagu-lagu karangan mereka itu benar-benar bagus atau pujian-pujian manis yang selama ini didapat dari pacar, teman atau keluarga hanya sebatas basa-basi saja. Strangers will be listening to your songs, honest opinions will be given, and people nationwide will vote. The good songs will survive dan akan masuk ke kompilasi-kompilasi Nubuzz berikutnya.

So, silahkan kirim demo kalian ke :

A & R department Nubuzz Network.
Ratu Plaza Office Tower lantai 19
JL. Jendral Sudirman Kav 9
Jakarta-Selatan

Free EP Download!

The EP that started it all for me, silahkan di download.

Mari Bikin EP Lagi.

Selain sedang dalam proses rekaman materi full album, saya juga sedang mengerjakan 1 buah EP baru. Yep, when everyone’s asleep i became a very busy bedroom musician.

Ini adalah salah satu (prototype) lagu yang sedang saya kerjakan untuk EP kedua ini.

Sample berikut adalah hasil rekaman suara gitar Larrivee OM3R saya. Sedikit tentang Larrivee, ia adalah gitar akustik butik buatan Canada, tidak dijual di Indonesia, if you want one you have to at least go to Singapore. What?..i have other guitars?! Well, i only said i wasn’t happy with my Cole Clark, i never said i don’t have other guitars, of course i have other guitars, what kind of bedroom musician do you think i am? Hehehehehe….

Well, selamat menikmati sample lagu dibawah.

Walk Into The Door – Adhitia Sofyan (prototype sample)

Dan Rekaman Full Album pun Dimulai…

Tadi malam (26 Okt 08) saya memulai proses rekaman untuk materi full album. Karena it’s for ‘the real thing’ (bukan untuk keperluan demo), rekaman kali ini akan saya treat lebih serius dan tidak terburu-buru. Pernah terlintas di pikiran saya untuk menyewa studio profesional dengan sound engineer berpengalaman-nya, tapi niat itu saya urungkan karena pertama saya sangat enggan untuk meninggalkan kenyamanan berada dirumah bersama istri dan anak tercinta. Kedua saya enggan mengeluarkan biaya untuk melakukan rekaman yang serius, karena saya pikir dengan rekaman di rumah saya bisa mendapatkan hasil yang cukup listenable. I know it’s not going to be a spectacular crystal clear professional studio quality, but who am i to do so?

Seperti yang sudah pernah saya mention, rangkaian perangkat remakan di rumah sudah di sederhanakan. Saya membuang semua device yang bertuliskan Behringer dari rangkaian alat rekam saya. Behringer adalah perangkat audio super murah untuk pemula, semua sinyal suara yang melewati perangkat cheapo ini akan di pertajam sehingga menghasilkan karakter suara dengan kadar treble yang cukup jahat, kalau istilah audionya disebut ‘coloring’. Sekarang semua sinyal gitar dan vokal akan ditangkap via Rode NT1A condenser microphone yang kemudian diperkuat oleh Presonus TUBEpre pre-amp untuk di olah lebih lanjut oleh Presonus Firebox audio interface yang pada akhirnya seluruh soundwave akan terlihat di tampilan GarageBand di MacBook saya. Seluruh perangkat rekaman diatas disambung oleh kabel Planet Waves.

Untuk gitar utama saya masih memakai Cole Clark FL2A. Gitar ini adalah gitar modern akustik buatan Melbourne-Australia. Gitar ini adalah gitar yang dipakai Jack Johnson diatas panggung. Ben Harper dan grup musik Snow Patrol juga kadang-kadang memakainya. Di negeri kita sendiri gitar ini biasa dipakai oleh Stevie Item (Andra and the Backbone) dan Pasha (Ungu). Harganya diatas 12 juta rupiah. Wah, pasti keren dong? Ya…keren bagi yang merasa cocok dengan sound-nya. Saya sendiri sekarang kurang merasa cocok. Setelah lama mendengarkan musik-musik akustik, saya jadi jatuh cinta dengan karakter suara gitar akustik tua dan old school. Cole Clark mendadak menjadi terlalu modern untuk saya, terlalu bright, terlalu bersih, terlalu rapi, terlalu kaku. Tapi apa boleh buat, sampai saat ini saya belum berhasil mencari pembeli untuk gitar ini dan the recording has to start soon.

Sesi semalam dimulai dengan basic gitar track untuk lagu ‘Memilihmu’. Saya memulai sesi rekaman ini dengan track-track gitar yang paling panjang dan melelahkan untuk di rekam. ‘Korban’ berikut adalah Adelaide Sky yang akan saya rekam dengan Takamine TC132SC nylon.

Saya tidak menentukan tanggal persis kapan semua materi akan selesai di rekam, tapi harusnya semua sudah selesai sebelum 2008 berakhir. Setelah itu saya baru akan memikirkan soal cetak CD + cover dan mekanisme penjualannya.

So, here we record again…

Adelaide Sky To Be On Rudy Soedjarwo’s Film.

Hal yang satu ini membuat saya gembira dan realisasinya sangat saya nanti-nanti. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar. Amin.

Dimulai dari sebuah pesan di inbox MySpace saya bulan Agustus lalu:

“Hi Adhitia..

langsung aja yaa…. Saya Tyas A. Moein, saya produser film ‘Kambing Jantan the Movie’, yang diangkat dari blog dan novel karya Raditya Dika. Kami sangat tertarik dengan lagu Adelaide Sky yang dinyanyikan Adhitia untuk dijadikan salah satu lagu yang akan dimasukkan ke dalam film. Judul dan liriknya pas sekali dengan isi film ini, yang memang shooting di Jakarta dan Adelaide..

Film ini disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan akan diperankan sendiri oleh Raditya Dika, karena memang film ini bercerita tentang perjalanan hidup Raditya Dika (dari blognya) sejak kuliah di Adelaide sampai sekarang menjadi salah satu penulis best seller (buku: kambing jantan, cinta brontosaurus, radikusmakankakus dan babi ngesot). Rencana shooting di bulan Oktober dan akan release di bioskop bulan Februari 2009.

Kalau memunngkinkan, saya ingin sekali bertemu dengan Adhitia untuk ngobrol mengenai lagu ini. Saya bisa dihubungi di 0818 XXX XXX.

Saya tunggu kabarnya..

Thanks a lot,
Tyas A.
Moein”

Proses pembuatan film ini bisa dipantau disini.

Soal Full Album…

Persis sebelum bulan puasa beberapa waktu lalu, saya sudah berhasil merekam 11 lagu di studio kamar saya. Rencananya lagu-lagu ini yang akan mengisi full album saya nanti. 5 diantaranya adalah lagu-lagu yang ada di EP pertama saya yang di rekam ulang biar seragam feel nya dengan ke 6 lagu baru lainnya. Proses rekaman materi full album ini sebetulnya agak terburu-buru, karena saya berniat segera menyerahkannya ke mas Not di NuBuzz sebelum puasa dimulai. Agak kurang bijak kalau di malam-malam bulan Ramadhan saya menyibukkan diri genjrang-genjreng bergitar- ria sampai pagi. Jadi materi full album ini saya kira sifatnya masih sebuah demo yang saya buat secepat namun sebaik mungkin agar bisa ‘kelihatan’ dulu materinya.

Beberapa bulan lalu ketika lagu saya masih berada di chart NuBuzz Prambors mas Not pernah mengabari saya kalau NuBuzz tertarik untuk memproduksi full album saya, jadi dia menantikan materi-materi lagu untuk mengisi full album ini. Namun sekarang saya mendapat kabar kalau NuBuzz belum siap untuk membuatkan full album untuk artis-artisnya (even untuk Sind3ntosca sekalipun; artis jagoan NuBuzz) karena proses pembuatan full album perlu melibatkan banyak pihak dan workplan NuBuzz, yang baru saja melepaskan diri dari Prambors, dalam hal ini belum 100% clear.

Sebetulnya saya baru dan hanya menggantungkan ke NuBuzz untuk urusan full album ini, saya belum punya plan b, walaupun untuk release full album tidak harus lewat NuBuzz. Nah, sekarang untuk me-release-nya sendiri, banyak sekali PR dan list of what-to-know yang harus saya cari.

Pertama dari materi yang telah terekam, saya sendiri belum begitu happy dengan hasilnya, rasanya ingin merekamnya ulang. Baru-baru ini saya telah men-simplfy rangkaian perangkat rekaman studio kamar saya dan menggantikan beberapa peralatan murah-seadanya dengan yang lebih layak. Harusnya hasil rekaman dengan settingan baru ini bisa lebih baik.

Kedua, saya sedang bosan dan tidak begitu cocok dengan sound gitar yang saya pakai di EP pertama dan materi full album ini. Saya sedang berusaha menjualnya dan mencari gitar yang lebih cocok. Jadi sampai saya mendapat gitar yang saya cari, agak reluctant rasanya untuk memulai proses rekaman kali ini.

Ketiga….ah, untuk yang ketiga keempat dst itu nanti saja dulu, sekarang yang terpenting adalah untuk segera rekaman ulang.

Sebetulnya saya bisa saja membagikan materi demo yang sudah ada di online secara gratis, dan saya cukup senang melakukannya, namun ternyata beberapa teman musisi indie dan rekan-rekan di industri musik sangat tidak menyarankannya. Yah, karena saya belum punya keputusan apa-apa, jadi materi demo full album ini saya keep dulu. Walaupun sebetulnya saya sudah membagi-bagikannya kepada rekan-rekan terdekat saya, hehehe.

Well, begitulah soal full album, mohon maaf buat siapa saja yang merasa sedang menunggu-nunggu kehadirannya. I’m on it, mudah-mudahan tidak terlalu lama.

EP Pertama dan Jawara Prambors NuBuzz : Musisi Kamar Harus Keluar Kamar.

Karena kangen pengen nulis-nulis lagu lagi, pertengahan 2007 saya mulai mengumpulkan alat-alat home recording sederhana untuk rekaman di MacBook saya. Kegiatan rekam-merekam lagu saya yang terakhir adalah tahun 99 untuk projek solo, mungkin akan saya bahas lain waktu. Lumayan takes time untuk mencari perangkat rekaman yang cocok dan mudah aplikasinya, tapi setelah saya pikir cocok, proses menulis lagupun saya mulai.

Untuk projek kali ini saya hanya mengandalkan gitar akustik dan vokal saja. Kenapa? Pertama karena saya memang tidak punya band dan tidak tertarik untuk punya band, saya adalah orang rumahan yang sangat cinta berada di rumah, jadi ngapain ngeband. Kedua, gitar akustik adalah kendaraan paling simple untuk membuat lagu, gitar akustik terdengar lebih spontan, jujur dan apa adanya buat saya.

Lagu demi lagu pun selesai. Semuanya hanya buat koleksi pribadi dan beberapa saya berikan ke teman-teman dekat saya. Saya tidak punya rencana apa-apa terhadap lagu-lagu ini, yah, untuk di kumpulkan dan dibagikan ke teman-teman saja, toh ini cuman projek hobi, nanti kalo udah banyak mau saya bikin album kali…hehehe. Waktu itu saya baru punya 5 lagu.

Suatu malam sepulang kantor saya menemukan kiriman CD dari teman musisi indie saya Andre Harihandoyo. Sebuah CD band barunya Andre Harihandoyo and Sonic People. Saya pikir,”Sadis…udah bikin album lagi aja mereka…ck ck ck”.  Beberapa waktu si JJ (panggilan Andre) ini juga pernah bikin album solo berjudul Room For Everybody. Lalu saya balik albumnya untuk melihat list track lagunya. “Anjrit…kok cuman 5 lagu…5 lagu mah gue juga punya!”.

Hehehe. Belakangan saya baru sadar kalau yang saya pegang itu namanya EP (Extended Play) alias album mini, album yang berisikan kurang dari 6 atau 8 lagu begitu kalau gak salah. Malam itu juga saya kumpulkan 5 lagu yang saya punya. Lalu saya cari kontak orang yang bisa duplikasi CD dan cetak cover diatas kepingan CDnya. Saya juga yang men-desain cover mini album pertama ini. Akhirnya saya mendapat kontak si penduplikasi CD ini, ternyata minimum saya harus cetak 100 keping. “Buseet, buat apa CD 100 keping?!…gue cuman butuh 20!”. Hehehehe…rencananya EP saya ini cuman mau saya bagikan ke keluarga dan teman2 terdekat, cuman ya apa boleh buat, 100 keping 100 keping deh.

Sekitar semingguan paket CD ini sampai ke kantor saya. Hasilnya tidak sebagus yang saya kira, cetakan desain di atas cd hanya seperti kertas yang ditempel rapi saja, tidak menyatu dengan CD-nya, tapi ya sudahlah. Lalu saya mulai memasukkan CD kedalam cover plastik cheapo yang lalu saya sisipi desain sampul 1 lembar bolak balik yang saya desain dan print di Subur. Yah…lumayan lah…home-made sekali, hahahaha. Setelah siap saya langsung bagikan ke beberapa teman kantor. Buat teman-teman diluar kantor saya paketkan dan dikirim oleh kurir. Beberapa hari kemudian acara kirim mengirim CD selesai, sisa CD yang ada sekitar 70an, hehehe, yang lalu saya simpan di dalam box di bawah meja di suatu ruangan gelap yang tidak terpakai.

Seminggu dua minggu berlalu saya agak tergelitik untuk mengirimkan EP saya ini ke radio untuk sekedar bisa diputar di chart-chart indie kalau memang ternyata layak. Tahun 99 saya pernah punya projek solo yang (kata teman saya) pernah bertengger di no. 1 chart musik indie radio Ardan – Bandung. Saya pun browsing ke berbagai home page radio-radio di Jakarta. Dari situs-situs radio yang saya kunjungi, saya hanya menemukan 1 chart indie yang menerima lagu-lagu ‘masyarakat biasa’ untuk tayang on air, chart ini adalah NuBuzz di radio Prambors. Saya sendiri tidak tahu menahu tentang bagaimana reputasi chart NuBuzz ini, buat saya sepertinya kok yang namanya chart indie radio itu cuman di ada-adain aja buat nyenengin band / artis antah berantah yang mempersilahkan lagu mereka bisa tayang di radio beken. Who would listen to indie chart selain orang yang kirim demo itu sendiri pikir saya. Didasarkan oleh rasa bosan, saya pun mengirim EP saya ke Prambors.

2 hari kemudian saya mendapat telpon dari pihak Prambors, namanya mas Anton Wahyudi. Mas Anton (atau mas Not, ternyata panggilan lazimnya) bilang mereka setuju untuk memutar 2 lagu saya di chart NuBuzz, lagu-lagu tersebut adalah ‘Adelaide Sky’ dan ‘Memilihmu’. Wah, senang sekali rasanya, saya juga agak heran kenapa formal sekali pake di telpon-telpon segala, hehehe. Ternyata agenda pembicaraan tidak berhenti disitu, topik pembicaraan selanjutnya adalah rencana pembuatan kode RBT (Ring Back Tone) untuk kedua lagu saya tadi.  Ternyata ini memang program se-paket di Prambors NuBuzz untuk lagu-lagu Indie-nya. Kalo gak salah mas Not juga mention soal acara-acara manggung band-band NuBuzz ke depan. Mas Not juga bilang kalau saya akan perlu menandatangani beberapa kontrak sebelum lagu-lagu tadi bisa tayang on air.

Mendadak saya jadi grogi, kok jadi serius gini ya?…can you just play the songs and forget about me? who’s gonna listen to them anyway except me and my parents.  Saya sama sekali tidak ingin serius di musik, tidak sekarang, dimana umur sudah mencapai 30, bentuk tubuh sudah kurang ideal, menikah , punya anak serta memiliki perusahaan sendiri yang kesibukannya luar biasa. Dulu memang saya pernah berencana menjadikan musik sebagai pilihan hidup saya, tapi saya rasa rencana itu sudah ditolak Tuhan ketika tahun 96 saya gagal menjadi murid Berklee College of Music di Boston.

Dengan perasaan yang agak tidak menentu saya bilang ok ke mas Not atas segala proposal yang ditawarkannya. Beberapa hari kemudian paket kontrak yang ternyata super tebal ber-halaman-halaman ini tiba di meja kantor saya. Fast forward sedikit, pada acara on air interview di Prambors seputar topik NuBuzz yang saya hadiri, mas Daniel Tumiwa pernah mengatakan untuk menyimak kontrak musik baik-baik, kalau tidak sehati dan sejalan dengan band / artis, tidak usah di tanda tangani. Nah, yang namanya kontrak itu ditulis oleh bahasa hukum yang sangat tidak manusiawi. Isi nya penuh dengan kalimat-kalimat seperti ‘..yang kemudian akan disebut sebagai pihak kedua’, ‘pihak kesatu dan kedua akan selalu mengingat pasal yang tercantum di poin A-B202…’, ‘hal-hal yang menjangkoet kepentingan bangsa, maka dengan ini, saya nyataken, Endonesa merdeka!’. Anjrit. Kalo tulisan kontraknya saja bikin mata sulit berkompromi, bagaimana mau bisa sampai turun ke hati?. Akhirnya kontrak ini tidak saya baca sepenuhnya, saya hanya menelpon kembali mas Not dan meminta dia untuk menjelaskan isi kontrak secara garis besarnya saja. Kontrak pun saya tanda tangani dan saya kirim kembali ke pihak NuBuzz.

Chart NuBuzz tidak memiliki jam tayang / slot waktu khusus. Lagu-lagu NuBuzz dimainkan setiap hari satu lagu setiap jam nya, random pula, jadi nge-blend dengan musik-musik artis mainstream lainnya, hanya saja si penyiar akan memberi tahu kalau itu adalah lagu dari chart NuBuzz  dan pendengar dipersilahkan untuk voting lagu tersebut untuk menaikkannya ke posisi yang lebih baik. Lagu-lagu teratas NuBuzz lah yang akan di jadikan RBT nantinya. Lagu-lagu yang kurang bernasib baik akan berguguran dan keluar dari chart. Lagu ‘Adelaide Sky’ pun mulai dari posisi 8, saya selalu memantaunya dari website Prambors. Biasanya posisi/ ranking di chart akan berlaku selama 2 minggu sampai adanya result voting baru. Saya tidak gembar-gembor ke keluarga dan teman untuk mem-vote lagu saya, please, saya sudah terlalu tua untuk itu, saya bahkan tidak memberi tahu siapa-siapa soal lagu saya di chart kecuali ke istri saya yang kemudian lalu dia yang membuat pidato resmi ke teman-teman kantor kalo lagu saya diputar di radio Prambors (saya dan istri satu kantor).

Minggu-minggu berlalu Adelaide Sky sudah naik ke posisi 6, lalu 4. Dan satu momen yang pikir tidak akan terjadi, Adelaide Sky-pun berhasil mencapai posisi 1 Prambors NuBuzz. Senang sekali rasanya. Ternyata Tuhan tidak sepenuhnya menolak rencana bermusik saya. Saya merasa diingatkan kalau mau bermusik tidak perlu harus lewat Berklee College. Saya disuruh menunggu oleh Tuhan sampai tahun 2007 dimana waktunya saya bisa membuat lagu yang gak malu-maluin, cukup baik dan layak dengar.

Adelaide Sky sudah di puncak chart selama 2 minggu. Saya kembali mengunjungi website Prambors untuk melihat siapa rekan NuBuzz lain yang kali ini berhasil menduduki posisi 1. Malam sebelumnya saya sempat menduga kalau Adelaide Sky bakal masih ada di posisi 1, tapi saya segera menepis pikiran sombong itu. Laporan chart baru pun terpampang di layar laptop saya, kebanyakan posisi telah berubah tempat, kecuali 1 lagu. Adelaide Sky masih berada di posisi 1. Saya berusaha keras untuk tetap humble, lalu berpegangan ekstra erat ke kursi, siapa tahu badan ujuk-ujuk melayang, hehehehehehe.

Karena Adelaide Sky ini juga kunjungan ke MySpace saya meningkat drastis. Orang-orang meninggalkan komen tentang Adelaide Sky. Saya lalu teringat sisa EP saya…EP-EP-an kalo buat saya sih hehehe, yang tersisa 70 keping itu. Karena saya orang marketing, langsung saya pasang gambar 70 keping EP ini di halaman MySpace. Saya mempersilahkan setiap orang yang berminat untuk meninggalkan alamat masing-masing untuk kemudian saya kirimi EP saya ini, gratis! ongkos kirim saya yang tanggung. Dalam waktu kurang dari 2 bulan ke 70 CD ini telah habis. Paling jauh saya mengirimnya ke sampai ke Pontianak. Beberapa review cantik dan ucapan terimakasih teman-teman yang mendapatkan EP saya pun lalu bermunculan di blog-blog internet. Ternyata bagi-bagi gratis bisa sangat menyenangkan.

Karena sudah agak ada yang mengenal, sayapun diundang kampus Atma Jaya untuk tampil di acara Art Fest mereka tanggal 5 April ’08. Hah..tampil?!…manggung?…maksudnya bermain di stage di depan penonton?…yikes!. Terakhir saya manggung adalah tahun 2000, dan itu pun di Solo, di ‘kampung’, ini Jakarta man! dan Jakarta-nya bukanlah Jakarta coret antah berantah, tapi saya akan bermain di salah satu kampus beken ibu kota. Hari demi hari pun saya lalui dengan ketegangan tingkat tinggi sampai akhirnya hari yang saya tunggu-tidak tunggu itu pun datang. Show time sekitar jam 2 siang pada hari Minggu, saya ditemani Iim, istri saya, yang hari itu ‘menyamar’ menjadi salah satu audiens di antara abg-abg kampus. Di belakang panggung saya bolak balik ke toilet, badan agak lemes, krn selain grogi, saya juga sedang agak kurang sehat. Salah satu panitia bertanya santai ke saya,”Lo udah sering manggung-manggung gini dong Dhit?”. “Ngg..gak juga, terakhir manggung tahun 2000 dulu” jawab saya antara pasrah dan mencoba santai. “HAH?”, jawab si panitia kaget, mungkin dia agak menyesal sudah mengundang saya hadir di kampusnya, hehehe. Akhirnya giliran saya naik panggung, saya duduk, sendiri di stage dengan gitar akustik saya, menjadi artis pertama yang tampil hari itu….nice.

“Halo semua, gue Adhitia Sofyan, musisi kamar, agak grogi juga karena hari ini harus main diluar kamar”, sapa saya ke audiens. Yang lalu disambut dengan cheering support yang cukup warm. “Aaah..santai ajaaa”, teriak salah satu dari mereka. 4 lagu saya bawakan siang itu, the show went well. Sampai saya berkemas-kemas meninggalkan stage mereka masih berteriak meminta lagu lagi, sayang, saya cuman benar-benar prepare 4 lagu, karena meski saya punya 5 lagu, lagu saya yang berjudul WYL tidak bisa dilantunkan dengan gitar dengan tuning standar, saya harus re-tune ulang gitar saya untuk bisa membawakan WYL, beda cerita kalau saya bawa 2 gitar. Lagi pula band berikutnya sudah ready bermain menggantikan saya.

Anyway, show di Atma Jaya ternyata menjadi tempat show terbaik di antara semua tempat show yang kemudian pernah saya lakukan sampai saya menorehkan tulisan ini. Atma Jaya punya auditorium yang cantik. Waktu saya main semua lampu dimatikan, kecuali lampu sorot yang warm di stage. Tirai velvet merah raksasa berdiri di belakang saya sebagai penutup stage. Setingan yang sempurna untuk sebuah akustik show.

It was a pretty show, terima kasih Atma Jaya.
null

Saya Seorang Musisi Kamar.

Suatu malam ayah saya mengajak kami untuk menikmati live music performance di Holand bakery restaurant + kafe di Solo, waktu itu umur saya 14 tahun. Pada waktu sang gitaris band top 40 memainkan intro lagu Black or White-nya Michael Jackson saya langsung terbengong-bengong. Ibu saya pernah sekali membawakan saya gitar klasik sepulang dari kantor, namun saya tidak begitu tertarik memainkannya, belum lagi gitar itu harus di tuning (kalo bahasa umumnya di stem) di nada-nada tertentu yang terlalu susah untuk diingat. Akhirnya gitar itu saya buat gaya-gayaan saja di depan kaca sambil mendengarkan lagu-lagu favorit saya pada waktu itu.

Tapi kali ini lain,….ini elektrik gitar!..dengan suara distorsinya yang heboh dimainkan live di depan mata dan telinga saya. Seperti telah menemukan tujuan hidup sesungguhnya, saya menoleh pada ibu saya,”Mah, aku mau les gitar elektrik!”

Minggu depannya saya ambil kursus di Yayasan Musik Indonesia di Solo. Saya tidak begitu lama ikut kursus disini, setelah setahun, saya merasa sudah cukup ilmu, setidaknya buat genjrang-genjreng di kamar sendiri yang masih saya lakukan setiap hari pagi (sebelum sekolah / kuliah dan ngantor) dan malam (sepulang sekolah / kuliah dan ngantor) sampai umur hampir mendekati 31 saat ini.

Saya sampai tidak bisa menjelaskan apa artinya gitar buat saya,…gitar adalah saya, enough said.

Up ↑