Suatu malam ayah saya mengajak kami untuk menikmati live music performance di Holand bakery restaurant + kafe di Solo, waktu itu umur saya 14 tahun. Pada waktu sang gitaris band top 40 memainkan intro lagu Black or White-nya Michael Jackson saya langsung terbengong-bengong. Ibu saya pernah sekali membawakan saya gitar klasik sepulang dari kantor, namun saya tidak begitu tertarik memainkannya, belum lagi gitar itu harus di tuning (kalo bahasa umumnya di stem) di nada-nada tertentu yang terlalu susah untuk diingat. Akhirnya gitar itu saya buat gaya-gayaan saja di depan kaca sambil mendengarkan lagu-lagu favorit saya pada waktu itu.

Tapi kali ini lain,….ini elektrik gitar!..dengan suara distorsinya yang heboh dimainkan live di depan mata dan telinga saya. Seperti telah menemukan tujuan hidup sesungguhnya, saya menoleh pada ibu saya,”Mah, aku mau les gitar elektrik!”

Minggu depannya saya ambil kursus di Yayasan Musik Indonesia di Solo. Saya tidak begitu lama ikut kursus disini, setelah setahun, saya merasa sudah cukup ilmu, setidaknya buat genjrang-genjreng di kamar sendiri yang masih saya lakukan setiap hari pagi (sebelum sekolah / kuliah dan ngantor) dan malam (sepulang sekolah / kuliah dan ngantor) sampai umur hampir mendekati 31 saat ini.

Saya sampai tidak bisa menjelaskan apa artinya gitar buat saya,…gitar adalah saya, enough said.